Dibagian ini penulis hanya membagi karateristik sistem multimedia menjadi dua bagian. karateristik pertama yaitu sistem multimedia yang berdiri sendiri dan karateristik kedua adalah karateristik sistem multimedia pada sistem network.
- Sistem multimedia yang berdiri sendiri
sistem multimedia yang berdiri sendiri biasanya memiliki I/O device untuk menangkapnya, tapi setidaknya hanya untuk the playback dari media dengan tipe discrete dan continuous.
Audio dan video biasanya memiliki bit-rate yang signifikan tingginya dari pada sitem ouput itu sendiri. biasanya audio dan video bentuk raw-nya saja berukuran besar. dengan contoh, PAL standart video memiliki 25 frame perdetik. dimana satu framenya memiliki resolusi 640 x 480, dan 16 bit color yang membutuhkan 4,915,200 bit, atau 614,400 byte untuk menampilkannya. lalu resolusi dari Full-motion video tersebut dengan tampilan warna yang tinggi membutuhkan 15,360,000 byte, atau 14.65 Mbyte, untuk setiap detik videonya. bahkan untuk video clip yang panjang durasi sekitar 30 saja membutuhkan simpanan data sebesar lebih dari 439 Mbyte. karena alasan ini dipakailah software untuk memfasilitasi transmisi dari continuous media di network, video dan audio biasanya di kompres (compressed). Real-time decompression dari video dan audio streams dapat dilakukan oleh software, dan hardware support juga dibutuhkan untuk real-time compression (untuk video).
Tempat penyimpanan video and audio yang telah di kompres juga masih tetap mengkonsumsi sejumlah magnetic atau penyimpanan optic media. CD-DA (Compact Disk – Digital Audio) teknologi juga dipakai oleh tempat penyimpanan video. dalam perhitungannya maximum data transfer rate yang 150Kb/detik (bandingkan ini dengan transfer rate dari layar penuh full-motion video yang belum di kompres membutuhkan 14.65 Mbytes/detik!). walau telah di kompres full-motion video optimisasi untuk playback-nya lebih kecil (biasanya 160 x 120) transfer rate-nya untuk menstranfer data pada window. untuk itu dengan tanpa kompromi agar video playback tetap bagus tampilannya walau frame rate nya telah di turunkan ( mata manusia dapat menerima motion minimal 16 frame per detik) bersamaan dengan penurunan kualitas warna pada penyimpanan video. jika audio stream juga menampilkan yang biasanya 8-bit mono untuk menurunkan dari overhead dalam sistem bus.
Modern CD device beroperasi disekitar 50x dari aslinya – yang memungkinkan produksi data transfer rate dalam region 7.5Mbyte/detik – (DVD dapat memanage sekitar 10Mbyte/detik; dan modern AV hard disk dapat memungkinkan kinerja 59.7Mbytes per detik). kedepannya sebuah CDs memiliki lebih dari HDs data yang dapat di tulis ke contiguous sector, berarti disini terdapat sedikit atau bahkan tidak terdapat head movement (dan hence, latency), yang telah memberikan penerimaan waktu yang hampir konstan. HDs dapat di pakai ulang, selama block-nya masih ada, walaupun begitu disitu masih terdapat banyak space overall untuk menyimpan data berkapasitas tinggi, dan tidak terdapat jaminan bahwa data yang tersimpan itu akan tersimpan di contiguous block. Untuk menyelesaikan masalahnya, sistem alokasi file yang modern mempunyai space yang lebih besar blocks-nya (berkisar 64k/128k block), dan dapat menampung data dalam jumlah besar didalam cylinders, juga menurunkan seek time, berkemampuan untuk pemeliharaan transfer rates secara konstan, selagi tetap mencari untuk rate yang lebih cepat yang dibutuhan oleh discrete media.
Sistem multimedia yang berdiri sendiri, memiliki kapasitas HD yang besar, CD-ROM/DVD-ROM player, dan sebuah sound-card. juga membutuhkan beberapa spesifikasi untuk mengatur monitor komputer, tapi hal ini di luar dari topik. tambahan, multimedia komputer juga harus memiliki speaker dan microphone. untuk video playback tidak dibutuhkan, tapi untuk video capture, dibutuhkan video capture card (yang setidaknya memiliki sedikitnya tempat untuk Digital Signal Processor, dan dengan tambahan video codec (real-time compressor/decompressor)) juga penting. External port juga di butuhkan untuk beberapa hardware tambahan seperti scanner, digital camera, dll. yang dibutuhkan untuk meng-capture resolusi tinggi dari multimedia data.
- Sistem multimedia dalam jaringan
Sistem multimedia dalam jaringan hanya membagi dari karateristik sistem multimedia yang berdiri sendiri dengan kebutuhan tambahan yang memungkinkan multimedia tersebut dapat terkoneksi pada network (berkecepatan tinggi).
Hal utama pada multimedia yang terkoneksi oleh internet adalah sumber (resource) yang dapat di bagi (share) yang dapat memungkinkan sharing data ke orang lain didalam ruang lingkup internet. lalu aplikasi multimedia yang bekerja dan dapat di distribusikan (ex., CSCW, video conferencing, dll.) dan setidaknya access remote yang digunakan untuk mengatur akses didalam multimedia data.
Koneksi internet sering kali mengalami kemacetan. dengan tambahan, jika komputer server, atau selagi running dalam pendistribusian aplikasi multimedia, lalu disini juga terjadi overhead dalam persiapan data untuk distribusinya ke network, kemungkinan yang terjadi adalah terjadinya conjunction dengan multimedia data yang telah dahulu di capture. Sebagai contoh, Web server yang memiliki video file yang dapat di download dapat berakibat banyak yang mengakses secara simultan oleh beberapa client. sebuah komputer yang dapat menggunakan konferensi video harus meng-capture audio dan videonya, lalu di kompres-kan, dan baru dipersiapkan untuk di sebar ke internet. koneksi internet yang lebih lambat atau dimana lebih banyak traffic di dalam jaringan internetnya dalam mengakibatkan lebih sedikit data yang terkirim, meskipun begitu tetap akan di capture di real-time, dan dapat di transmisikan ke rate yang respon.
Ada beberapa hal yang signifikan mengenai situasi sulit didalam standarisasi didalam network. situasi ini mengenai network protocol. ambil contoh TCP/IP, yang merupakan protokol untuk internet. data file yang akan ditransmisi dibagi menjadi beberapa paket yang sama ukurannya (biasanya 1k), dan bernomor secara berurutan. protokol tersebut dimotivasikan untuk mencari jalur yang tercepat untuk sampai ke sumber tujuan. tiap paket dapat mengambil jalur yang berbeda untuk sampai ke tujuan. ini bisa mengakibatkan paket data (dan biasanya sering) tiba di berbeda waktu dari tempat data dikirim. dengan text dan grafik file atau dari beberapa file saat pengiriman bisa saja di download dan di lihat, hal ini bukan masalah. tempat tujuan tentu saja hanya menunggu sampai semua data dapat terkirim sepenuhnya dan mengatur kembali paket data tersebut agar teratur. jika data paket tidak tiba tepat waktu, maka daerah tujuan akan kembali meminta kembali paket data yang hilang, sampai sejauh ini pun bukan masalah. Video dan audio file biasanya berukuran besar (dan sering gagal di download), dan internet juga bisa di gunakan untuk “live broadcast” (yang dapat menyebabkan tidak bisa di simpan dan tidak bisa di ulang kembali nantinya!). Video dan audio streaming merupakan multimedia yang “continuous” data yang bisa di mainkan saat diterima oleh penerima. namun apa yang akan terjadi dengan paket data yang hilang saat pengiriman paket data tadi berbeda jalurnya? kadang-kadang jika waktu tunggunya sangat kecil maka paket data tersebut akan di buffer. dan biasanya video dan audio file tidak dapat dimainkan dan dianggap cacat, kecacatan ini biasanya di hilangkan begitu saja, hal ini dapat mempengaruhi sistem menunggu lebih lama karena masih tetap menunggu paket data yang hilang tersebut. namun bisa di perbaiki jika client (tujuan) memberi tahu server (sumber) bahwa paket data tersebut hilang dan harus dibatalkan. Round-Trip Delay (RTD) informasi juga bisa dijadikan informasi ke server jadi server akan menanggapi dengan mengirim lebih sedikit data untuk client, contoh, menurunkan kualitas gambar video atau audio sampling rates. ini bisa menjadi bahan pembahasan yang panjang selama sesi. tapi bagaimanapun juga ini hanya sedikit feature aplikasi yang ada di internet, dengan ATM dan B-ISDN, pembahasan ini akan menjadi bagian pembahasan yang esensial di dunia network.
